Friday, April 25, 2008

GANJARAN BAGI PENGHIANAT

Ketika terjadi perang salib, pasukan nasrani menyerbu tanah Arab. Pasukan Islam dipimpin oleh Sultan Salahuddin Al Ayubi. Sedangkan laskar Nasrani dibawah komando Richard si hati singa yang sangat kejam.

Dalam suatu penyerbuan yang licik, beberapa orang tentara Islam terjebak. Semuanya terbunuh terkecuali 3 orang. Mereka ditasngkap dan dihadapkan kepada Pangeran Richad.

“Kalia akan dibunuh mati!” teriak Pangeran Richard.

Ketiga tentara itu hanya diam, sepertinya tak gantar menghadapi gertakan itu. Dua diantaranya mereka berusia separoh umur dan seorang lagi masih kelihatan muda.

“Tinggal pilih, kalian ingin mati dengan cara mana? Digantung, disalip, atau dipancung!” kata Pangeran Richard lagi.

Kedua tentara Islam yang berusia sedikit tua itu akhirnya menjadi ketakutan mendengar ancaman hukuman yang nampak tidak main-main. Mereka kelihan pucat pasi mukanya, tubuhnya gemetar dan lunglai bertumpu diatas lututnya. Sedangkan seorang lagi yagn masih muda tampak tenang.

“Namun semua dapat diatur,” lanjut Pangeran Richard.

“Masih ada jalan untuk selamat bagi diri kalian. Kalian akan kubebaskan dan kuberi kesenangan serta harta kekayaan, tetapi dengan syarat kalian harus memeluk agama kami dan menjadi mata-mata tentara kami!”

“Hai anak muda,” teriak Pangeran Richard kepada tentara Islam yang masih muda itu.”Bagaimana dengan dirimu? Menurut kehendak kami dengan imbalan kesenangan dan kekayaan, atau memilih mati?”

Pemuda yang tangannya terbelenggu erat hanya menatap panglima Nasrani itu dan mulutnya mengucapkan “Allahu Akbar.” Sikap anak pemuda itu membuat Pangeran Richard murka. Dengan berteriak ia memanggil algojonya.

“Bangsat! Seret dia keluar dan cincang tubuhnya!”

Algojo yang tubuhnya tinggi besar, dengan kasar menyeret tubuh pemuda yang tak berdaya itu keluar. Dimasukkan tubuh pemuda itu kedalam sebuah tong kayu yagn bagian dalamnya dipasangi paku-paku.tong itu ditutup rapat-rapat, kemudian digulingkan dari atas bukit. Kedua kawannya disuruh menyaksikan jalanya hukuman mati itu.

Ketika tong yang berisi pemuda itu sampai didasar bukit dibuka.kedua kawannya memekik ngeri melihat keadaan anak muda itu.seluruh tubuhnya bersimbah darah dengan luka bagai dicabik-cabik.

“Sudah kau lihat nasib kawanmu itu?” Tanya Richard ketika kedua tentara Islam itu dihadapkan kepada dirinya.”Kau ingin seperti dia atau memilih kehidupan yang mulia?”

“Saya ingin hidup mulia,” jawab seorang diantara kedua tentara Islam yang sedikit lebih tua.

“Bagus! jadi kau mau menuruti permintaanku? Mau menjadi mata-mata kami?”

“Tidak!”

“Lho?!Lalu apa maksudmu?” teriak panglima Richard “Aku ingin hidup mulia disisi Allah. Allahu Akbar!”

“Tua bangka kurang ajar! Kau lihat saja nanti “ejek Panglima Richard dengan mata berapi-api.” Dan kau,yang satunya bagaimana keputusanmu?”

Tentara Islam yang satunya,yang berumur lebih tua dengan gemetar dan badannya membungkuk-bungkuk ketakutan maju kedepan

“Saya……..saya mohon ampun,Tuanku.Saya……..saya akan menuruti kehendak Tuanku.”

“Hahaha……Bagus…bagus” Richard sihati singa tertawa seraya memili-milin kumisnya.”Artinya kamu mau memeluk agama kami dan menjadi mata-mata tentara kami?”

“Benar Tuanku. Saya sebetulnya memeluk agama Islam hanya ikut-ikutan saja. Saya juga ikut berperang juga karena dipaksa.

“Betul demikian?”

“Betul, Tuanku”

Hati sang Pangeran Richard sangat girang mendengar jawaban itu. Kemudian ia berteriak

“Hai, Pengawal berikan dia pakaian yang bagus dan mulia sekarang ia kuangkat menjadi mata-mata kita.”

Pengawal itu maju kedepan.”Ampun Panglima. Sebelum diangkat menjadi bagian dari tentara kita. Apakah lebih baik kita uji kesetiaanya pada kita?”

“Apa maksudmu?”

“Dia harus berani membunuh kawannya sendiri untuk menguji kesetiaannya pada kita.”

“Hamba bersedia Tuanku. Hamba bersedia melakukannya”kata tentara Islam itu.

Maka pengawal itu membuka pengikatnya dan memberinya sebilah pedang. Dengan mata menjijikan penghianat itu mengambil pedang yagn disodorkan kepadanya. Dan dengan cepat dihujamkannya keperut kawannya sendiri,kemudian diulangnya berkali-kali. Gugurlah syahid itu dengan memekik”Allahu Akbar! Allahu Akbar!.”

Penghianat itu kemudian maju kedepan sambil tertawa sinis.”Percayakah Tuanku sekarang? Dan hamba kini menyatakan diri untuk menjadi pengikut Tuan.”

Richard si hati singga mengangguk-angguk kepala. Kemudian tertawa puas.

“Pengawal ajak dia ketempat perjamuan dan perlakukan dia dengan baik.”

“Sebentar Tuanku” sahut pengawalitu.”Tidak sepatutnya orang ini diberi penghormatan seperti itu.”

Penghianat itu menjadi kaget dengan ucapan itu

“Apa maksudmu?” Tanya Panglima Richard.”Bukankah dia telah melakukan tugasnya dengan baik?”

“Justru karena itulah kita harus berhati-hati,Tuanku,”Jawab pengawal itu.”Terhadap kawannya sendiri yang sudah lama bergaul cukup lama,dia tega berbuat kejam. Apalagi terhadap kita yagn baru dikenalnya. Hamba yakin suatu ketika dia pun pasti akan menghianati kita.”

Mendengar penjelasan pengawal itu, Panglima Richard mengkerutkan alisnya,lalu mengangguk-angguk.

“Ampun, Tuanku . hamba sekali-kali tidak akan berani melakukanitu….”ratap penghianat itu.

“Tuanku,Panglima….”kata pengawal itu lagi.”sifat khianat adalah sifat terlaknat. Kalau suatu hari ia diri dan dia membeberkan semua keadaan serta pertahanan kita kepada tentara Islam,apakah kita tidak akan hancur?”

“Lalu apa yang harus kita lakukan terhadap orang ini?” Tanya Panglima Richard

“Hukum dia dengan kejam,melebihi kematian kedua sahabatnya yagn kesatria itu”

“Algojo!” teriak Panglima Richard.”Masukkan penghianat ini kedalam kandang singa!”

Dengan meraung-raung minta ampun penghianat itu diseret kekandang singa. Dia menangis dan meratap untuk diampuni, tapi panglima Richard tak memperdulikannya. Sebentar kemudian terdengar raungan singa yagn diiringi jeritan memilukan. Tubuh penghianat itu tercabik-cabik oleh singa yang nampaknya sangat kelaparan.sengsara dia diDunia dan sengsara pula diAkhirat

No comments: